Jumat, 30 Maret 2012

Memetik Hikmah Ramadhan


Oleh M Abdurrahman Tsani


Senin, 29 Agustus 2011

Bulan suci Ramadhan diharapkan menjadi momentum reformasi moral dan sosial setelah satu bulan menjalankan puasa. Di bulan ini, keyakinan akan kelebihan dan kemulian yang diberikan Tuhan kepada umat Muhammad sudah mendarah daging bahwa dosa-dosa yang telah lalu bisa terampuni. Ini sesuai sabda Nabi, "Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan ihsan, maka dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni."
Dalam agama Islam, tawaran menarik berupa 'pahala' bagi orang-orang yang mau berbuat kebaikan (amal saleh) sudah banyak terdapat di dalam teks-teks suci. Pahala sunnah dan wajib semua dilipatgandakan. Sedangkan ketika malakukan maksiat, tak pernah ada janji melipatgandakan dosa dari perbuatan itu. Yang jelas, pada bulan ini merupakan musim panen bagi umat Islam yang mau beramal saleh.
Kemantapan terhadap balasan dari Tuhan selama menjalani aktivitas baik (saleh) selama bulan ini tidak dipandang sebelah mata. Kehidupan sosial mulai dari yang terkecil hingga besar pun mudah kita temukan di sekeliling kita. Atribut agama menjadi andalan dalam mengisi kesejukan Islami selama sebulan penuh. Tidak dipungkiri, kesalehan individu bertebaran di mana-mana.
Atribut agama layaknya kerudung, peci, sorban dan busana Muslim-Muslimah tak jauh dari anggapan sebagai langkah ritualitas individu. Sedangkan dalam konteks sosial, kegiatan penyantunan anak yatim, buka bersama, berbagi sedekah, diskusi agama, dan lain-lain juga merupakan langkah memanfaatkan berkah yang dijanjikan dalam bulan puasa.
Jika ditelisik, sampai batas mana kemampuan umat Muslim menjalankan kebaikan ini? Apakah hanya terjadi pada bulan Ramadhan saja, sedangkan di bulan lain justru tidak sedikit perbuatan tercela banyak dilakukan? Apakah beramal saleh hanya terjadi di bulan Ramadhan saja?
Secara subtansi, yang menjadikan umat Muslim berbondong-bondong berbuat baik bukan karena perbuatannya, namun momen atau waktunya. Menurut logika, berbuat baik tidak harus menunggu bulan suci, di bulan-bulan lain pun sah-sah saja. Mengapa di bulan selain Ramadhan, tidak banyak terjadi nuansa Islami dan amal saleh sebagaimana pada bulan ini?
Sebab, itulah, amal saleh yang merupakan kategori sebagai investasi pahala sulit terwujud apabila selain di bulan puasa. Walaupuan ada, kuantitas kesalehan, baik individu maupun sosial tak sebanding dengan kesalehan selama Ramadhan. Hal itu terjadi karena pada bulan Ramadhan segala amal saleh dilipat gandakan. Perburuan pahala yang menggiurkan bagi orang awam jelas sah-sah saja. Dalam sebuah hadits Qudsi dijelaskan, "Puasa itu milikku (Tuhan) dan hanya Aku jua yang akan membalasnya."
Pengakuan Tuhan bahwa puasa itu adalah miliknya menunjukkan terjadi pengistimewaan pada bulan ini. Seolah pengakuan itu tidak boleh ada pihak lain yang ikut campur. Dari latar belakang tersebut, umat Muslim semakin yakin dengan kehebatan bulan ini, sehingga mau tidak mau, jangan sampai keistemwaannya terlupakan begitu saja.
Hasrat manusia demi memenuhi kebaikan-kebaikan dalam hidup terutama yang besifat lahiriah terkadang dilakukan dengan cara yang kurang baik. Bisa saja, nuansa kemulian Ramadhan yang dianggap sebagai momen reformasi individu dan sosial disalahfungsikan dengan niat-niat yang tidak baik. Hal inilah yang kemudian memicu nihilnya esensi Ramadhan, yakni hilangnya berkah. Artinya, tidak ada proses transformasi perilaku dari yang kurang baik menjadi lebih baik.
Semua perbuatan Islai, apabila dimanfaatkan untuk pecitraan pribadi dan golongan jelas tidak sesuai dengan orientasi Ramadhan. Secara bahasa (lughoh), Ramadhan bermakna membakar. Di sinilah fungsi pembakaran Ramadhan terhadap jiwa-jiwa umat Muslim dalam melakukan kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan. Tujuan dari pembakaran tersebut untuk jangka panjang, bukan sesaat.
Selain bulan Ramadhan, terdapat 11 bulan Hijiriah yang mana dalam menjalani kehidupan dari hari ke hari jelas banyak aral melintang. Paling tidak, persiapan jiwa dengan penuh ihlas dalam menjalani ibadah selama bulan suci menjadi penting mengingat perjalanan selama satu tahun tidak cukup sedikit. Sehingga, dibutuhkan jiwa-jiwa yang bersih dan benar-benar ikhlas beramal.
Yang dikhawatirkan, selama bulan suci terkadang terjadi pembakaran semu. Artinya, kebiasaan beramal saleh secara individu maupun sosial oleh umat Muslim bukan semata-mata atas kehendak Tuhan, namun sebagai pencitraan dan karena pujian manusia. Yang jelas, perilaku tersebut tidak untuk jangka panjang. Bisa saja, di luar bulan ini, mereka akan berbuat sebaliknya.
Walaupun manusia adalah tempat salah dan lupa, dengan menggunakan argumen ini sangat tidak sesuai dengan konteksnya. Yang dituju dalam menggapai esensi atau makna Ramadhan berhubungan dengan sikap dan perilaku pasca menjalani ritual puasa. Jangan sampai, ritualitas dan amal saleh selama ini hanya formalitas penyemarak Ramadhan belaka, namun harus bisa membangkitkan gairah diri dalam konsisten manjalani amal saleh.
Umat Muslim harus bercermin diri ketika melakukan perbuatan baik. Bukan untuk berkaca dari keburukan, namun berkaca sejauh mana kebaikan itu bisa istiqomah, entah lahir maupun batin. Proses tersebut meupakan transformasi kejiwaan yang dalam ilmu Tasawuf disebut dengan pengosongan jiwa (takholli) dari maksiat dan kemudian memasuki tahap pengisian jiwa, yakni beramal saleh (takhalli).
Oleh karena itulah, keberhasilan jiwa kita dalam menapaki pahala dan proses tranformasi sosial jangan sampai melupakan konsistensi amal saleh, baik vertikal maupun horizontal. Agar kita tidak terbuai dengan nuansa Ramadhan yang bersifat formalitas belaka, maka esensi ritualitas Ramadhan jangan sampai terlupakan, yakni dengan tetap melakukan kebaikan; baik selama ataupun pasca bulan Ramadhan. ***
Penulis adalah peneliti di IKSAB Center, Semarang. 
DImuat di Suara Karya

0 komentar:

Poskan Komentar